2015 itu..

2015 itu benar-benar tahun dimana saya jungkir balik, dari takut, senang sampai sedih sesedih-sedihnya. Banyak banget hal yang terjadi di tahun kemarin. Terlalu banyak sehingga ga akan gue lupa seumur hidup gue.

Di 2015 gue masih sering jalan-jalan seperti tahun sebelumnya. Kali ini malah lebih sering, sebulan bisa sekali. Dari pulau Harapan, Pahawang, Ujung Kulon, Bromo, Belitung bahkan mencoba Paralayang –terbang menggunakan parasut. Untuk pertama kalinya gue mendaki gunung yaitu gunung Ijen. Gunung yang dianggap pendek oleh para pendaki yang sudah mahir, namun sangat sulit buat gue. Sampai-sampai gue mempersiapkan diri dengan naik turun tangga kantor 11 lantai beberapa kali seminggu dan dijadikan bahan tertawaan teman kantor.

Di awal tahun gue mendaftar kuliah di Prancis, negara impian gue. Gue mendaftar 12 universitas dan diterima hanya oleh 1 uni (2 sih, tapi yang 1 lagi meminta gue masuk s1 tahun terakhir). Seneng banget rasanya, akhirnya bisa ke Prancis juga. Sedih karena harus berpisah dengan kenyamanan. Kenyamanan tinggal di apartemen di pusat Jakarta, kenyamanan bermain bersama teman-teman dan kenyamanan kenyamanan lainnya.

Tahun ini, orang yang paling gue cintai dalam hidup gue, divonis hepatitis C. Orang itu adalah nenek gue. Nenek yang sudah mengurus gue dari gue lahir, yang sudah gue anggap ibu, melebihi ibu kandung gue sendiri. Gue bener-bener kaget karena fungsi hatinya tinggal 40 persen dan tidak terdeteksi dini. Sempet galau juga, apakah gue jadi ke Prancis atau ga (waktu itu keadaannya sudah diterima di Prancis). Ga tega membiarkan eyang gue sendiri di saat-saat kritis seperti itu. Eyang gue pun bertambah parah di bulan bulan berikutnya, dan sampai di suatu titik dimana dia mulai sering ngelantur. Gue inget itu terjadi sebulan sebelum keberangkatan gue. Saat itu gue cuma bisa nangis dan nangis. Gue udah mulai pasrah, apapun yang akan terjadi sama nenek gue ya terjadilah. Hari keberangkatan tiba, dimana gue harus berpisah dengan nenek yang paling gue cintai itu. Gue udah pasrah kalo saat itu adalah saat terakhir gue liat dia. Gue pengen meminta maaf atas semua kesalahan yang gue lakukan, tapi kata itu tak terucap, gue cuma bilang “Cepet sembuh ya, Eyang!” dan dia menjawab “Amin!”. Ga ada yang nyangka kalo hari di mana mimpi gue terwujud adalah hari dimana mimpi buruk itu terjadi, terakhir melihat orang yang paling gue cintai. Beberapa bulan kemudian, eyang gue benar-benar pergi untuk selamanya. Dia menghembuskan nafas terakhirnya setengah jam setelah gue skype dengan dia untuk mengucapkan kata perpisahan dan maaf. Gue beruntung bisa mengucapkan hal tersebut. Seenggaknya dia tahu kalo gue sayang banget sama dia, meskipun kadang gue nyebelin banget. Sampe sekarang kalo inget Eyang, gue masih suka nangis sendiri. Gue berharap suatu hari dia datang ke mimpi gue, karena gue benar-benar kangen.

Tahun ini gue juga melakukan hal yang paling gue takuti, gue menyatakan cinta pada orang yang udah gue suka bertahun-tahun lamanya. Rasanya lega banget dan tidak semenakutkan yang gue bayangkan sebelumnya –tau gitu dari dulu aja.

Tahun ini gue belajar bahwa mimpi tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Ternyata kuliah di Prancis itu bener bener susah (bisa dibaca dipostingan sebelumnya) dan gue memutuskan untuk tidak melanjutkan s2 gue untuk sementara waktu. Hidup di negara orang juga sama susahnya, dari beradaptasi dengan bahasa, cuaca dan lain-lain. Buat saya yang paling susah adalah tidak mempunyai banyak teman seperti di Jakarta dulu. Ternyata gue orangnya cukup dependen dan sangat membutuhkan orang lain.

Setelah sampai di Prancis hobi jalan-jalan juga tetap berlanjut, sampai akhir tahun 2015 sudah 20 kota di Eropa yang gue sambangi. Dari Prancis, Jerman, sampai Swiss. Gue melihat gunung salju pertama dalam hidup gue dan rasanya benar-benar amazing. Gue menikmati tempat-tempat cantik di musim gugur dengan daun warna warninya yang begitu cantik. Gue merasakan tinggal di daerah di mana Natal paling berasa di Prancis, di Alsace, dengan segala Christmas market-nya yang sangat rupawan.

Tahun ini berakhir dengan sebuah ketakutan tentang masa depan dan sedikit harapan. Apapun yang terjadi tahun kemarin, harus tetap disyukuri saya masih bisa sampai di tahun 2016.

 

La Rochelle, 3 Januari 2016 (yang ini juga baru diposting sekarang-menyusul keberanian gue yang baru muncul untuk mempost postingan sebelumnya)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s