si kecil pemimpi

Di postingan 2 tahun lalu, saya sempat menulis tentang idealisme saya di mana saya menyindir kakak kelas saya yang sudah S2 dan berkata “Ngapain masuk ke FIB lagi? Susah dapat kerja”. Cuni kecil yang pemimpi ini mempertanyakan idealisme sang kakak kelas. Saya terus bertanya, memangnya tidak boleh saya punya mimpi lain, misalnya mimpi S2 di FIB dan menjadi sastrawan, dan sebagainya. Tepat 2 tahun setelahnya, Cuni kecil sudah menjadi agak dewasa, atau agak realistis tepatnya. Cuni 25 tahun sudah merasakan jatuh bangunnya mencari kerja karena berasal dari jurusan tak dianggap, alias hanya sastra. Saya sudah merasakan perbandingan mencolok gaji seorang lulusan sastra prancis UI dan Akuntansi UI, yang notabene masuknya sama-sama susah, keluar juga sama-sama susah. Bahkan gaji teman saya yang di Akuntansi UI bisa 4 kali lipat saya, ataupun lebih! Blar. Rasanya saya seperti ditampar. Saya terus meyakinkan diri saya bahwa semua ini akan ada hikmahnya. Namun si logika terus mengatakan “Emang enak dulu ga milih masuk akuntansi?”

Kembali ke 6 tahun silam, saya diterima melalui jalur tanpa tes di jurusan Akuntansi sebuah universitas swasta bilangan Sudirman. Saat itu saya memilih jurusan tersebut karena saya memang senang hitung menghitung, apalagi hitung menghitung ala akuntansi, bukan ala fisika atau kimia yang njelimet. Si suara hati berkata lain. Meski ada bisikan untuk memilih Akuntansi UI, namun bisikan hati yang lebih keras menjeritkan satu jurusan, Sastra Perancis UI. Ya, saya mencintai Prancis sejak saya masih SD! Bayangkan, seorang anak SD kelas enam tergila-gila dengan timnas Prancis saat Piala Dunia 2006. Kecintaannya pada timnas Prancis membuat anak tersebut mulai mencintai satu persatu segalanya tentang Prancis. Dari mulai bahasa, pernak pernik ataupun segalanya. Memasuki kelas 2 SMA, saya masuk jurusan IPA. Jurusan yang saya benci, tapi terpaksa masuk ke dalamnya. Saat itu saya mendaftar kelas Bahasa Prancis di CCF Salemba. Segera setelah belajar bahasa tersebut, praktis hari yang paling saya suka dalam tahun itu adalah hari di mana terdapat les Bahasa Prancis. Saya bisa melarikan diri dari rumus-rumus matematika, fisika, kimia, dan bertualang dengan Bahasa Prancis. Kecintaan saya yang begitu mendalam ini membuat saya melingkari satu-satunya jurusan yang saya pilih dalam SPMB, Sastra Prancis UI. Si hati sempat ingin melingkari Akuntansi, tapi hati lebih menginginkan Prancis. Jika tangan melingkari Akuntansi, sama saja seperti mencoba peruntungan antara Akuntansi dan Prancis. Untuk lebih memastikan posisi di jurusan yang saya inginkan, saya hanya memilih Prancis UI. Say Goodbye to Akuntansi UI!

Enam tahun telah berlalu dari saat saya menangis terharu ketika diterima di Prancis UI. Sekarang, Cuni yang umurnya sudah separuh abad sedang memikirkan masa depannya. Di mana kebutuhan makin banyak dan tabungan mulai harus dipersiapkan untuk masa depan. Saya adalah tipe wanita yang ingin memenuhi kebutuhannya sendiri. Saya ingin traveling keliling dunia, membeli apartemen dan memenuhi kebutuhan dengan uang sendiri. Apa mau dikata, jurusan yang saya pilih tidak membuat saya mendapat pekerjaan yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan saya. Saya sempat menyesal kenapa tidak melingkari akuntansi, namun sesal kemudian tiada guna. Saat ini saya mencoba terus bersyukur dan berharap, semoga saya bisa berada di posisi lebih tinggi, bisa bekerja di kedutaan besar Prancis yang gajinya”wah”, atau diterima di departemen luar negeri sehingga bisa travelling. Jujur, saya mencintai pekerjaan saya yang sekarang. Meski kadang uang terasa tak cukup, namun ada kepuasan batin sendiri, kepuasan saat saya mencintai pekerjaan saya, yang belum tentu saya dapatkan jika melingkari jurusan yang satu itu.

Polemik terus berkecamuk di kepala saya. Saat ini saya hanya bisa terus berusaha dan berharap. Saya terus berharap semua ini ada hikmahnya. Siapa tahu tahun depan saya sudah berada di Prancis untuk menikmati beasiswa S2? Atau siapa tahu saya bisa bekerja di negara impian saya itu? Yah memang kita tak pernah tahu. Semoga semua mimpi saya bisa terkabul, karena katanya mimpi adalah kunci. Jika memang tidak, saya akan mencoba menelan pahitnya kegagalan namun terus bersyukur dengan yang saya dapat. Setidaknya saya pernah belajar sesuatu yang saya cintai sepenuh hati selama 4 tahun. Setidaknya saya pernah bertemu dengan orang-orang luar biasa yang telah saya temui dari kuliah hingga sekarang. Setidaknya saya pernah menikmati berada di fakultas dan universitas yang telah membentuk saya sampai sekarang ini. Setidaknya saya sudah bertemu orang yang sudah lama saya tunggu dalam hidup saya. Setidaknya saya sudah menikmati apartemen, walau hanya apartemen orang tua, dengan seorang sahabat di tengah kota. Memang banyak yang dapat disyukuri, namun masih banyak yang perlu dicapai untuk masa depan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s